Wow I went through a whole year without posting (as if anybody's waiting for my updates, on a blog even. Who reads blogs these days?). Nevertheless, aku mau posting di sini soal wedding-ku karena mungkin, mungkiiin, ada yang butuh info nikah di venue nikahku kemarin dan dengan kekuatan SEO postinganku sampai di layar orang yang membutuhkan.
Setelah berkali-kali ngeliat nikahan kakak-kakak sepupu, dan beberapa kali bantu urus nikahan, terutama nikahan adikku di 2021, aku jadi punya kriteria sendiri nikahanku mau gimana. Semua sepupuku nikahnya di gedung. Aku sendiri ngerasa, hmmm agak membosankan ya di gedung. Meskipun hampir pasti akan nyaman, tapi aku lebih suka liat natural lights dan tanaman-tanaman asli. Aku juga ga pengen beliin kain seragaman, karena selain nambah budget, yang dikasih kain pun jadi mesti keluar duit untuk jahit kebaya. Intinya aku gamau repot dan gamau merepotkan. Dan yang pasti, aku gamau tamu yang datang lebih dari 300 orang. Undanganku dan Tangkas sendiri sebenernya paling 100 sekian, kita lebihin sampai maksimal 300 untuk jatah tamunya orang tua. Para sepupu dan temen-temenku yang nikah duluan semua undangannya kayaknya minimal 800 orang deh, apalagi sebelum pandemi, konsep intimate wedding masih dipandang gak banget terutama sama orang-orang tua. Menurutku, itu terlalu rame, apalagi aku juga kurang suka konsep dipajang di pelaminan. Kami pengennya mingle supaya bisa beneran ketemu dan ngobrol sama tamu. And that's the kind of wedding that we got.
Target: 2019 - 2022
Tapi namanya juga rencana, bisa mulus, bisa juga belok-belok. Pandemi happened, kami yang lagi LDR beda negara sejak 2018 terpaksa gabisa ketemu sama sekali selama 2,5 tahun. Kami terakhir ketemu Desember 2019. Pada kesempatan itu, kami bersama udah menyampaikan maksud mau menikah ke orang tua masing-masing.
Sejak pandemi, semua komunikasi kami hanya online. Maret-Juni 2020, kerjaanku sempet cukup hit rock bottom sehingga aku gabisa nabung selama beberapa bulan. Pertengahan 2020 baru mulai picking up the pieces, aku mulai nabung lagi tapi belum bisa sebanyak dulu (niat awalnya, kami menetapkan masing-masih nabung sejuta sekian tiap bulan, jadi jumlah totalnya nanti 50-50). Tapi yaudah apa boleh buat, nabung semampunya aja. Syukurnya, kerjaan dan penghasilan Tangkas sama sekali ga terganggu jadi dia tetep nabung sejumlah nominal awal.
Actually Getting Married: March - June 2022
Venue & Food
Di akhir 2021, kami mulai serius cari vendor. Semua vendor yang pernah aku save di IG aku cek satu-satu pricelist-nya, dimulai dari venue. Aku punya beberapa kriteria untuk venue nikahku, berdasarkan pengalamanku dateng maupun bantu ngurus nikahan orang:
1. Restoran, karena aku males nyobain katering satu persatu. Maunya sekaligus dapet tempat dan makanan.
2. Semi-outdoor, kayak yang udah kujelasin di atas. Aku mau yang ada indoor-nya juga supaya bisa ngadem kalo panas atau neduh kalo ujan, terutama buat orang tua kami dan tamu-tamu yang berumur.
3. Masih deket rumah dan aksesnya gampang, baik untuk kami pengantin dan keluarganya, juga untuk tamu. Jadi gamau yang tempatnya nyempil atau di antah-berantah. Juga menghindari area macet.
Karena rumahku dan Tangkas di area Bintaro, Jaksel minggir dikit, jadi opsi-opsi utama kami mesti yang masih termasuk Bintaro greater area. Ciputat, Cirendeu, BSD, dan Jakarta Selatan sekitaran Kebayoran Lama dan Baru masih masuk hitungan. Opsi-opsi kami pada saat itu termasuk:
- Serambi Temu, Ciputat Timur (sangat222 deket rumahku tapi di luar budget)
- Taman Kajoe, Cilandak (bagus bgt kami berdua suka bgt tapi sangat di luar budget wkwkwk)
- Omah Pawon, Cilandak (oke sih tapi waktu itu aku masih ga sreg)
- Bumi Apsari, Lebak Bulus (aku sempet mau bgt ini tapi kenapa ya gajadi, lupa)
Ada beberapa tempat lagi tapi ga semuanya aku kontak.
Sampai suatu hari di awal 2022 aku nemu Bale Nusa. Bale Nusa ini satu gedung sama Sate Khas Senayan yang di Senayan, yaitu di lantai dua-nya. Pas lihat pricelist, harganya oke banget masuk budget semua, banyak fasilitas yang udah included (listrik gede, sound system, kursi untuk tamu, mushola, parkiran luas dan valet), akses lokasinya gampang dan semua orang pasti tau jadi gabakal nyasar. Waktu itu Tangkas belum balik ke Indonesia, jadi aku survey tempatnya sama ibuku. Kami makan di sana, dianterin lihat-lihat, dan langsung mantep apalagi staff yang ngobrol sama aku sangat helpful dan komunikatif. Makanan yang disajikan di venue adalah makanan restoran group-nya si Sate, jadi udah gausah diragukan enaknya lah ya. Pulangnya, aku kirim video tur di Bale Nusa dan pricelist ke Tangkas. Dia juga langsung setuju, jadi langsung booking deh tuh untuk 16 Juli 2022.
Bale Nusa ini ga gede-gede amat, tapi juga ga sempit, dia bisa nampung 150 pax. Undangan kami sebenernya total ada hampir 300 pax. Karena ga cukup, solusinya kami bikin dua sesi acara: sesi satu yang dimulai dari akad dan silaturahmi khusus untuk keluarga, dan sesi dua khusus untuk teman-teman dan kerabat lainnya. Di sesi satu acaranya cukup formal, kami di pelaminan aja dan tamu nyamperin, ya standarlah. Baru di sesi dua acaranya lebih kasual karena yang dateng juga temen-temen doang. Di sesi dua ini kami mingle. Seneng, deh, ga cuma salaman-foto-bye aja jadinya.
Vendors
Booking-bookingan ga selesai sampai di venue. Masih ada buanyaakk banget hal lain yang mesti diurus: booking penghulu, beli mas kawin dan cincin, attire cpp-cpw, attire keluarga, dekor, fotografer, seserahan, box seserahan, undangan berapa banyak dan siapa aja. Kami cuma punya sekitar 4 bulan untuk ngurusin printilan nikah. Terpaksa mepet karena Tangkas cuma bisa leave 4 bulan dari kantornya dan setelah nikah aku ikut ke negara tempat blio kerja heuheu. Dan bukan wedding planning namanya kalau tanpa drama~
Dari aku dan Tangkas sendiri sih sebenernya gaada berantem. Tapi masalah kecil-kecil muncul dari orang tua dan keluarga yang pengen ini dan itu hehe~ common sih ya. Sejak awal, kami udah menetapkan konsepnya adalah "situ yang undang, situ yang bayar", alias kalo orang tua kami mau ada nambah jatah undangan, mereka yang nambahin budgetnya karena aku dan Tangkas hanya menyiapkan budget untuk tamu kami sendiri yang memang kami kenal dekat. Di luar soal budget yah ada miskom-miskom tapi gaada masalah gede dan semuanya resolved dengan cepat.
Oh ya, kami ga pake WO secara resmi. Kami cuma minta bantuan sama temen deketku yang memang part time sebagai WO, lalu dia manggil temennya dua apa tiga orang untuk bantu dia di hari H. Tapi temen kami ini ngurus acara lamaran kami full sendirian wkwk keren.
Berikut list vendor yang kami pakai:
- Dekor: IG @theeveplanner. Ini owner-nya temen SMA kami!! Emang cakep punya, bisa dicek sendiri. Design cantik, staff komunikatif dan gampang dihubungi, profesional, oke banget lah.
- Fotografer: IG @libloppicture. Sebenernya nyari fotografer agak sulit journey-nya, karena yang sesuai sama kemauan kami pada di luar budget :") sampai akhirnya ketemu sama Liblop. yang style dan harganya sesuai sama kami.
- Cincin CPW: IG @heavenlynirwana. Aku bm banget cincin diamond sebenernya wkwkwk tapi kan mahal yak, eh nemu pengganti diamond yang juga lebih ramah lingkungan karena dibuat secara sintetis di lab, yaitu moissanite. Bisa baca di sini perbedaan diamond vs moissanite. Di Heavenly Nirwana, aku pesen cincin custom buat kami berdua, eh tapi ternyata cincin CPP-nya kekecilan banget. Karena pas pesen cincin Tangkas belum ada di Indo jadi gabisa ngukur langsung.
- Cincin CPP: akhirnya beli cincin silver di DParis hehe
- Attire CPW-CPP: attire kami jahit custom di penjahit langganan temen. Aku gabisa spill namanya karena blio punya project sendiri, takutnya ini info yang gaboleh di-spill wkwk.
- Tray seserahan: IG @by.afafie. Untuk tray seserahan, karena besar-besar dan berat, kami nyari yang lokasinya masih deket rumah supaya gampang ambilnya. Ketemulah sama By Afafie ini. Lokasinya di Sawah Baru, Ciputat. Masih nempel sama Bintaro area UPJ dan Bintaro Exchange.
- Souvenir: IG @schatziscent. Souvenir kami adalah scented candle, cocok banget sama aku karena aku fanssss beratttt scented candle. Awalnya untuk souvenir kami serahkan pada nasib yang penting murah dan cakep, eh dapet deh scented candle dari Schatzi. Nemu di toko ijo. Wanginya enak, udah termasuk individual box dan custom gift tag. Bener-bener satset aja pas pesen souvenir ini.
- MC: kami pakai dua MC berbeda untuk dua sesi acara. Di sesi satu, ada Tante Munik namanya, beliau adalah temen sekolahnya ibuku. Beliau langganan jadi MC di acara wisudaan UI, dan waktu aku wisuda (kebetulan juga dari UI), beliau ketemu ibuku dan bilang, "pokoknya kalo anakmu nikah, aku MC-nya, ya!". Karena beliau sangat pro dan menawarkan jasanya, jadi untuk akad kami sama beliau. Kalau di sesi dua, kami pakai temannya teman. Dia juga MC pro tapi lebih ke yang anak muda gitu. Mau naro IG-nya tapi IG dia bukan IG business jadi gaenak mau naro sini heueheu.
- Makeup pengantin, dua ibu, dan sister of the bride: semuanya Mecapan Wedding, termasuk hijabdo. Banyakkk banget pilihan MUA-nya bagus-bagus sampe bingung wkwkwk.
Kayaknya sih itu udah semua, ya. Kami emang gak yang budget wedding banget, tapi juga ga hedon banget. Total habisnya kira-kira antara 101-105jt, tapi nominal ini termasuk acara lamaran dan hal-hal lain di luar resepsi, seperti penghulu, transport dan akomodasi pengantin dan keluarga besar pengantin kayak nginep di hotel dll karena saudara dekat kami banyak yang dari luar kota. Kalau resepsinya doang sih kayaknya di bawah 70jt deh. Masih okelah untuk nikah aesthetic di Jakarta.
Epilog: The Dream Wedding
Alhamdulillah aku seneng banget dream wedding-ku tercapai dan Tangkas juga suka sama semua vendor kami. Having seen so many weddings my whole life, I couldn't help but to have my own dream wedding yang alhamdulillah kesampaian, mana nikahnya sama suamiku yang terbaik-ik-ikkk banget. Kalo penasaran, dream wedding-ku kriterianya apa aja, sih? Nih aku kasih list:
- Venue restoran semi-outdoor
- Bisa mingle
- Gapake band, kami pake sound system yang nge-play lagu-lagu kami sendiri dari Spotify. Soalnya band tuh kencenggg banget suaranya, jadi susah kalo mau ngobrol. Padahal kan aku pengen haha-hihi sama tamu, bukan hah-hoh-hah-hoh. Lagu-lagu wedding band juga mostly ga masuk kuping kami, maklum aku sama Tangkas wibu tua huhu sukanya lagu-lagu nipon :D tapi di nikahan kami gak yang nge-play openingnya Demon Slayer juga kok. Masih tau diri lah.
- Gapake adat. Bukannya ga nasionalis, tapi aku gamau bertele-tele pake ritual kedaerahan. Maunya ya akad sesuai agama aja, abis itu resepsi ngiter-ngiter. Aku juga gamau pake attire adat karena ga pengen ada pihak keluarga yang salty karena ngerasa adatnya dia diabaikan. Selain itu, aku ga pengen pake head dress mau itu suntiang ataupun siger karena takut akunya ga nyaman (aku suku Jawa-Minang dan Tangkas suku Sunda). Juga ga pengen pake kebaya karena pake kebaya formal selama berjam-jam tuh sesakkk.
- Hanya mengundang orang-orang yang kukenal dekat. Untuk undangan jatah teman-teman, kami cuma ngundang temen se-circle. Meskipun ada circle SMP, SMA, kuliah, tetap lebih intimate daripada ngundang satu kelas atau seangkatan lah ya.













