Saturday, September 24, 2016

Emansipesyong wanitah

“Tapi tetep ya, Kak,” ujar Ibu membuka percakapan. “Yang namanya laki-laki itu memang diciptakan egonya besar. Memang sudah semestinya perempuan itu karirnya gak usah tinggi-tinggi”.

Mataku yang tadinya terpaut pada novel yang sedang kubaca, beralih ke Ibu. Dengan cepat otakku sudah memikirkan argumentasi yang ingin kusampaikan.

“Wah, kalau aku sih gak pernah setuju tuh sama paradigma itu,” jawabku. “Menurutku, kalau aku bersama laki-laki yang benar-benar menyayangiku karena kepribadianku, dia gak akan merasa insecure atas kesuksesan karirku atau pencapaian akademisku”.

“Iya, tapi tetep aja laki-laki tuh ingin lebih sukses dari perempuan, apalagi kalau udah nikah,” Ibuku membalas dengan sabar. Beliau memang mempunyai pengalaman buruk terkait isu ini, makanya aku gak bisa main menyalahkan cara pikirnya. Aku paham betul masalah yang melatarbelakangi hingga beliau berpikir demikian.

Aku berusaha memberikan penjelasan atas argumentasiku. “Menurutku, ketika aku bersama seorang laki-laki, terutama kalau kami sudah nikah, kalau dia memang sayang padaku dan melihatku sebagai seseorang yang sukses, dia juga akan termotivasi dan berusaha untuk meraih kesuksesannya sendiri tanpa harus menginjak-injak harga diriku. Menurutku seperti itulah hubungan yang sehat”.

“Tapi kan di Islam pun laki-laki adalah pemimpin, dan istri harus hormat sama suami,” balasnya.

“Apakah ketika seorang istri punya karir yang baik, lantas dia jadi gak hormat sama suaminya?” tanyaku.
Ibu tidak menjawab, tapi aku tahu beliau masih mendengarkan.

Aku melanjutkan. “Apa salah kalau perempuan sekolah sampai S3? Apa dosa kalau seorang istri penghasilannya lebih besar dari suaminya? Kayaknya aku gak pernah dengar soal itu deh di Al Qur'an. Memang benar, secara Islam maupun anggapan mayoritas masyarakat, laki-laki adalah kepala keluarga dan sudah tugasnya untuk mencari nafkah. Tapi gak lantas jadi membatasi pencapaian si istri dong Bu?”.
Ibu belum menjawab. Dahinya berkerut, seperti sedang memproses ucapanku. Dalam hati aku berkata, “apa jangan-jangan si Ibu lagi mikir, ini anak sulungku kenapa jadi liberal amat? Sejak kapan dia jadi feminis gini?”.

Aku melanjutkan lagi. “Nabi Muhammad aja, istri pertamanya pengusaha kaya”. Yang kumaksud adalah Siti Khadijah. “Gak usah jadi pengusaha, keluarganya juga udah bangsawan. Waktu mereka nikah bahkan Nabi Muhammad belum diangkat jadi Nabi, jadi otomatis beliau pasti masih ngerasa bahwa dirinya cuma orang biasa-biasa aja. Pas udah jadi Nabipun, beliau pasti tetep rendah hati dan gak ngerasa kalau dia lebih baik dari orang lain, dan tetep menghormati hak dan kewajiban istrinya,” ujarku.

Aku percaya bahwa Rasulullah SAW adalah orang paling mulia yang pernah lahir di dunia. Akupun percaya bahwa kemuliaan dan kebaikan seseorang bukan dirinya sendiri yang menilai, tetapi Tuhan dan orang lain.
“Meskipun kaya, cantik, dan terkenal, Khadijah tetep hormat dan menghargai Rasulullah. Kekayaan materi bukan jadi alasan bagi seseorang untuk gak menghargai orang lain, termasuk dari istri kepada suaminya,” kataku lagi.

Ibu mengangguk. “Hmm bener juga sih”.

Selama 22 tahun aku hidup, aku selalu memegang teguh pendapatku bahwa perempuan bisa meraih apa yang bisa diraih oleh laki-laki. Perempuan bisa melakukan apa yang bisa laki-laki lakukan, kecuali jadi model pakaian dalam GT-Man. Aku juga beranggapan bahwa laki-laki bisa merawat anaknya sebaik seorang ibu, kecuali ya gak bisa melahirkan dan menyusui.

Buat apa R. A. Kartini susah-susah mengupayakan perempuan untuk mendapatkan pendidikan, kalau ujung-ujungnya perempuan kembali dibatasi oleh laki-laki dan masyarakat? Kalau memang betul begitu, berarti beliau hidup dan matinya sia-sia dong.
Oleh karena itu, aku akan tetap meraih kesuksesan yang aku impikan itu tanpa peduli kalau ada yang ngomong ke aku “gak usah sekolah tinggi-tinggi” atau “karirnya biasa-biasa ajalah”.

Apakah kesuksesan menurutku? Kesuksesan versiku adalah kalau aku udah berhasil mewujudkan mimpiku sejak SD, yakni bikin toko 2 lantai, yang di lantai pertamanya menjual karya-karya seni dan barang-barang handmade yang cantik buatan teman-teman serta kenalan-kenalanku yang seniman. Semacam meng-endorse seniman-seniman lokal, begitu. Lalu di lantai 2 ada coffee shop-nya, tempat sahabat-sahabatku suka nongkrong sepulang kerja, dan tiap malam minggu ada band kecil-kecilan tapi berbakat yang manggung di sana. Siapa tau salah satu customer-nya adalah pencari bakat, terus tertarik untuk membesarkan nama musisi-musisi yang main di tempatku. Kemudian, kesuksesanku yang terakhir adalah ketika aku mati, masuk surga deh. Aamiin.

Gak mau nikah?

Tentu saja mau. Salah besar kalau orang beranggapan jika perempuan sudah memiliki karir hebat maka dia gak akan mau berumah tangga. Memang ada yang demikian, tapi gak semuanya.

Yang penting untukku, aku gak mau nikah hanya karena orang-orang melihat usiaku sebagai usia ketika umumnya orang menikah. Aku gak mau punya anak hanya karena orangtuaku ingin segera gendong cucu. Aku gak menargetkan pada usia berapa hal-hal itu akan terjadi padaku. Kupikir kalau “menargetkan” itu rasanya arogan banget, emangnya kita punya kuasa apa buat memastikan kapan itu semua terjadi?

Aku mau nikah kalau memang sudah waktunya menikah. Aku akan punya anak kalau memang sudah saatnya untuk hamil. Kapankah itu? Hanya Allah yang tau. Kita sebagai manusia cuma bisa berdoa agar ketika semua itu terjadi, terjadinya secara baik. Percayalah bahwa Tuhan punya timing yang lebih mantep daripada kita (saranku, kalau memang udah ngebet nikah dan punya anak, berdoa agar keinginan tersebut segera dikabulkan. Hehe.).

No comments:

Post a Comment

 
Green Tea