Sunday, November 23, 2014

55 tahun menggila

Beliau saya panggil Pakde, karena memang beliau itu om jauh saya. Kami bertemu hari Jumat lalu, ditemani mata kaki kanan saya yang bengkak karena jatuh. Sambil jalan terpincang-pincang dibantu Citty dan Tari, kami memasuki Gedung Kementerian Kesehatan. Beliau adalah psikiater yang ditugaskan di sana sebagai tenaga profesional. Banyak pelajaran yang bisa diangkat dari obrolan kami dengan beliau, tapi ada satu yang saya highlight:

"Dulu di rumah sakit jiwa tempat saya kerja, pernah ada pasien psikotik, orang Indo-Belanda. Dia udah jadi pasien selama 55 tahun, dari sebelum saya kerja di rumah sakit jiwa itu. Dia gak punya keluarga, gak ada yang besuk. Coba kamu bayangin, 55 tahun tiap bangun tidur ketemunya sama suster lagi, yang didenger cuma 'yuk makan', 'yuk mandi', sama diajak jalan-jalan. Orang jadi kehilangan fungsinya, dan cuma bisa jalanin fungsi vital aja. Bayangin kalau kamu jadi dia, kalau weekend ngeliat pasien lain ada yang jenguk sementara kamu 55 tahun gak ada yang jenguk."

Kkkkhhhh dikasih tau kayak gitu rasanya sedih juga...

"Saya kasih tau sama mahasiswa psikologi, bayangin 'if I were in their positions'. Waktu itu saya suruh anak-anak psikologi di Universitas Muhammadiyah Jogja untuk datengin rumah sakit jiwa, satu orang pilih satu pasien sebagai keluarga angkatnya, kunjungi tiap weekend, bawakan jeruk, atau pisang, atau buku bacaan. Ajak ngobrol 1-2 jam. Itu pengobatan yang lebih efektif dibandingkan hanya obat."

Saya rasa itu juga berlaku di bidang kesehatan lain, gak hanya kesehatan jiwa. Buktinya pasien kanker akan lebih cepat sembuh jika dia selalu di-support dan dibikin happy oleh orang-orang yang dia sayang.


No comments:

Post a Comment

 
Green Tea